STRATEGI INSTRUKSI METAKOGNITIF DAN
COOPERATIVE LEARNING UNTUK PENGEMBANGAN WAWASAN PEMBELAJARAN DIDALAM ILMU
PENGETAHUAN
ABSTRAK
Para guru terus menerus menghadapi tantangan untuk menemukan dan menerapkan metode instruksi yang paling efektif agar dapat meningkatkan prestasi akademik dan mencocokkan perbedaan di antara siswa.Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek metakognitif dan strategi cooperative learning terhadap prestasi di kelas sains. Desain kuasi-eksperimental yang melibatkan 3 kelompok yaitu,dua kelompok perawatan yaitu kelompok cooperative learning dan instruksi metakognitif dan satu kelompok kontrol. Penelitian ini berlangsung selama 11 minggu.Topik yang diambil untuk tes penilaian prestasi ini adalah “anatomi manusia” yang digunakan untuk mengukur prestasi di 3 kelompok.Hasil penelitian menunjukkan bahwa instruksi metakognitif yang paling efektif dalam meningkatkan prestasi akademik. Analisis regresi ganda menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kesadaran metakognitif, dan prestasi. Peneliti merekomendasikan bahwa instruksi metakognitif diadopsi secara teratur didalam kelas sehingga dapat membantu siswa mempelajari materi secara lebih efisien dan untuk meningkatkan prestasi akademik.
Para guru terus menerus menghadapi tantangan untuk menemukan dan menerapkan metode instruksi yang paling efektif agar dapat meningkatkan prestasi akademik dan mencocokkan perbedaan di antara siswa.Penelitian ini bertujuan untuk menguji efek metakognitif dan strategi cooperative learning terhadap prestasi di kelas sains. Desain kuasi-eksperimental yang melibatkan 3 kelompok yaitu,dua kelompok perawatan yaitu kelompok cooperative learning dan instruksi metakognitif dan satu kelompok kontrol. Penelitian ini berlangsung selama 11 minggu.Topik yang diambil untuk tes penilaian prestasi ini adalah “anatomi manusia” yang digunakan untuk mengukur prestasi di 3 kelompok.Hasil penelitian menunjukkan bahwa instruksi metakognitif yang paling efektif dalam meningkatkan prestasi akademik. Analisis regresi ganda menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kesadaran metakognitif, dan prestasi. Peneliti merekomendasikan bahwa instruksi metakognitif diadopsi secara teratur didalam kelas sehingga dapat membantu siswa mempelajari materi secara lebih efisien dan untuk meningkatkan prestasi akademik.
Kata Kunci
:metakognisi,strategi metakognitif
PENDAHULUAN
Dikelas sains yang ideal,siswa akan diminta untuk merenungkan contoh-contoh konkret yang berhubungan dengan teori-teori abstrak.Ini telah diamati oleh peneliti bahwa banyak siswa setelah belajar tentang ilmu pengetahuan yang membahas kecerdasan dan gaya belajar memilih untuk diam dan hanya beberapa siswa yang menjawab pertanyaan dari guru.Jadi,tidak ada interaksi antara guru dan siswa.Hal ini dianggap oleh guru bahwa siswa yang tidak berbicara telah menguasai materi.Tetapi hasil kemudian menunjukkan sesuatu yang berbeda.Oleh sebab itu guru menyuruh agar siswa berdiskusi agar siswa lebih aktif.
Dikelas sains yang ideal,siswa akan diminta untuk merenungkan contoh-contoh konkret yang berhubungan dengan teori-teori abstrak.Ini telah diamati oleh peneliti bahwa banyak siswa setelah belajar tentang ilmu pengetahuan yang membahas kecerdasan dan gaya belajar memilih untuk diam dan hanya beberapa siswa yang menjawab pertanyaan dari guru.Jadi,tidak ada interaksi antara guru dan siswa.Hal ini dianggap oleh guru bahwa siswa yang tidak berbicara telah menguasai materi.Tetapi hasil kemudian menunjukkan sesuatu yang berbeda.Oleh sebab itu guru menyuruh agar siswa berdiskusi agar siswa lebih aktif.
Metakognisi dan cooperative learning
Metakognisi
mengacu pada pengetahuan seseorang tentang proses kognitif seseorang atau
apapun yang berhubungan dengan mereka (Flavel,1976). Metakognisi terbagi dalam
2 kategori : pengetahuan pengamatan dan peraturan pengamatan.Pengetahuan pengamatan
mengacu pada kegiatan yang melibatkan kesadaran pada satu kemampuan
kognitif.Sedangkan peraturan pengamatan mengacu pada kegiatan yang menyangkut
mekanisme self-regulatory yaitu secara berkelanjutan.Setiap proses dimana siswa
meneliti metode yamg mereka gunakan sendiri untuk dikembangkan atau memperluas
(Brown,1987). menurut Harman (2001)menyatakan bahwa pengajaran dengan strategi
metakognitif yaitu berarti guru akan memikirkan bagaimana mereka akan
mengembangkan metakognisi siswa.
Bilgin,l.et.al
(2006) dan Chang,CY.,&Mao,SL (1999) dalam kontribusi mereka mencatat bahwa
Cooperative learning melibatkan siswa dalam proses belajar dan berusaha untuk
meningkatkan berpikir kritis, Penalaran,dan kemampuan memecahkan masalah dari
peserta didik. Hal ini memaksa siswa untuk mendiskusikan pemikiran dan analisis
mereka. Dengan metode ini siswa akan mampu mengevaluasi diri mereka sendiri dan
mengumpulkan informasi dari teman sekelas lainnya. Guru juga akan memiliki
kesempatan untuk mengevaluasi pemahaman siswa berdasarkan isi diskusi.
Disain
Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain kuasi –eksperimen dengan tes pra dan pasca dengan dua eksperimental kelompok dan satu kelompok control.siswa sekolah tinggi menengah dari SMA Municipal khusus perempuan kota Tirunelveli,Tamilnadu,India diambil sebagai sampel penelitian.Sampel dibagi menjadi tiga kelompok yang terdiri dari 35 siswa.3 kelompok pertama diberikan tes prestasi ilmu/ science achievement test (SAT) dan tes kesadaran metakognitif/ metacognitive awareness test (MAT) dan hasilnya telah dibandingkan untuk mempelajari kesetaraan kelompok.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan desain kuasi –eksperimen dengan tes pra dan pasca dengan dua eksperimental kelompok dan satu kelompok control.siswa sekolah tinggi menengah dari SMA Municipal khusus perempuan kota Tirunelveli,Tamilnadu,India diambil sebagai sampel penelitian.Sampel dibagi menjadi tiga kelompok yang terdiri dari 35 siswa.3 kelompok pertama diberikan tes prestasi ilmu/ science achievement test (SAT) dan tes kesadaran metakognitif/ metacognitive awareness test (MAT) dan hasilnya telah dibandingkan untuk mempelajari kesetaraan kelompok.
Tabel
1: Perbandingan antara kelompok kontrol dan eksperimental dalam SAT pre-test
Test
|
Grup
|
N
|
M
|
S.D
|
Hasil
|
Keterangan
|
SAT
|
Grup
kontrol
|
35
|
32,5
|
7,8
|
0,83
|
Tdk
significant
|
Grup
cooperative learning
|
35
|
30,9
|
8,2
|
|||
Grup
kontrol
|
35
|
32,5
|
7,8
|
0,68
|
Tdk
significant
|
|
Grup
instruksi metakognitif
|
35
|
31,2
|
8,1
|
Seperti yang
terlihat pada table 1 tidak ada perbedaan yang significant antara nilai
rata-rata pre-test yang dicapai oleh kelompok eksperimen dan kelompok control.
Tabel
2: Perbandingan antara kelompok kontrol dan eksperimental dalam MAT pre-test
Test
|
Grup
|
N
|
M
|
S.D
|
Hasil
|
Keterangan
|
MAT
|
Grup
kontrol
|
35
|
22,9
|
7,1
|
0,77
|
Tdk
significant
|
Grup
cooperative learning
|
35
|
24,2
|
6,9
|
|||
Grup
kontrol
|
35
|
22,9
|
7,1
|
0,46
|
Tdk significant
|
|
Grup
instruksi metakognitif
|
35
|
23,7
|
7,3
|
Dari tabel 2 ada perbedaan yang
signifikan nilai rata-rata antara kelompok eksperimen dan kelompok control
Instrumen
Tes prestasi ilmu (SAT) telah dikembangkan oleh peneliti.Peneliti telah melalui buku teks 12 standar dewan nasional untuk penelitian pendidikan pemerintah india.Bab anatomi manusia dipilih untuk penelitian.Tes terdiri dari 75 pertanyaan dengan pilihan ganda.Pertanyaan dipilih berdasarkan cetak biru yang meliputi pengetahuan,pemahaman,aplikasi dan jenis keterampilan pertanyaan.Tes itu diberi skor 1 untuk setiap jawaban yang benar dan skor 0 untuk menjawab yang salah.
Tes prestasi ilmu (SAT) telah dikembangkan oleh peneliti.Peneliti telah melalui buku teks 12 standar dewan nasional untuk penelitian pendidikan pemerintah india.Bab anatomi manusia dipilih untuk penelitian.Tes terdiri dari 75 pertanyaan dengan pilihan ganda.Pertanyaan dipilih berdasarkan cetak biru yang meliputi pengetahuan,pemahaman,aplikasi dan jenis keterampilan pertanyaan.Tes itu diberi skor 1 untuk setiap jawaban yang benar dan skor 0 untuk menjawab yang salah.
Alat standarisasi untuk kesadaran
metakognitif dikembangkan oleh Schraw dan
Dennison (1994) yang terdiri dari 52
item.hal ini digunakan sebagai alat kesadaran metakognitif oleh banyak peneliti
dalam penelitian metakognisi
Prosedur
Tiga kelas dalam 45 menit yang diajarkan oleh guru yang sama.Penelitian ini terdiri dari 3 kelompok yaitu kelompok control,cooperative learning (CL) dan kelompok instruksi metakognitif (MI).Kelompok control diajarkan dalam Tanya jawab yang berkaitan dengan materi yang diajarkan.Siswa diminta untuk berbagi informasi dengan seluruh kelas.Kelompok CL mengikuti prosedur yang digunakan oleh kelompok control dengan satu modifikasi.Setelah materi diajarkan,masing-masing siswa dalam kelompok CL membaca materi yang ada pada buku,kemudian setiap siswa disuruh untuk berpasangan untuk berdiskusi sebelum informasi tentang topic tersebut dibagikan keseluruh siswa dan menjawab petanyaan pada topic tersebut.
Tiga kelas dalam 45 menit yang diajarkan oleh guru yang sama.Penelitian ini terdiri dari 3 kelompok yaitu kelompok control,cooperative learning (CL) dan kelompok instruksi metakognitif (MI).Kelompok control diajarkan dalam Tanya jawab yang berkaitan dengan materi yang diajarkan.Siswa diminta untuk berbagi informasi dengan seluruh kelas.Kelompok CL mengikuti prosedur yang digunakan oleh kelompok control dengan satu modifikasi.Setelah materi diajarkan,masing-masing siswa dalam kelompok CL membaca materi yang ada pada buku,kemudian setiap siswa disuruh untuk berpasangan untuk berdiskusi sebelum informasi tentang topic tersebut dibagikan keseluruh siswa dan menjawab petanyaan pada topic tersebut.
Kelompok MI
mengikuti prosedur yang digunakan oleh kelompok control dengan satu modifikasi
yaitu setelah materi diajarkan,kelompok MI membaca materi menggunakan petunjuk
strategi metakognitif berikut :
Menggunakan
kekuatan:saat
membaca,saya memanfaatkan kekuatan pribadi saya untuk memahami teks.Jika saya
pembaca yang baik saya berfokus pada teks,jika saya pandai angka dan diagram
saya berfokus pada informasi tersebut.
Menyimpulkan
makna (melalui analisis kata):sementara saya
membaca, saya mencoba untuk menentukan makna yang tidak diketahui
Menggunakan informasi latar belakang: sementara saya membaca,saya kembali merevisi latar belakang pengetahuan saya tentang topic,berdasarkan isi teks.
Mengevaluasi:ketika saya membaca, saya mengevaluasi teks untuk menentukan apakah itu memberikan kontribusi untuk pengetahuan saya/pemahaman tentang subyek
Cari menurut tujuan: saya mencari informasi yang relevan dengan tujuan bacaan saya
Membaca tujuan:saya mengevaluasi apa yang saya baca
adalah relevan dengan tujuan bacaan saya
Membedakan: Ketika saya membaca, saya membedakan antara informasi yang saya sudah tahu dengan informasi baru.
Menentukan kesulitan: dengan saya menbaca saya bisa
mengetahui tingkat kesulitan dari suatu.
Merevisi: Sementara saya membaca, saya kembali dan merevisi pertanyaan saya sebelumnya
tentang topik, berdasarkan teks.
Menebak topik kemudian: Saya mengantisipasi informasi yang akan
disajikan nanti dalam teks.
Strategi
ini digunakan untuk memeriksa pemikiran siswa,menganalisis posisi mereka dan
menjelaskan sudut pandang mereka. Pertanyaan metakognitif diatas adalah untuk
meminta siswa meneliti bagaimana mereka sampai pada satu jawaban terhadap
pertanyaan kognitif.
Tiga kelompok perawatan diajarkan pelajaran
ilmu yang sama setiap hari.Hanya diskusi kelas,dan tema diskusi bervariasi dari
kelas kekelas. Prosedur tetap seperti ini selama 11 minggu.post-tes diberikan
kepada semua kelompok.
HASIL
Perhitungan statistik seperti uji paired 't' dan analisis regresi berganda digunakan untuk menganalisis data
Perhitungan statistik seperti uji paired 't' dan analisis regresi berganda digunakan untuk menganalisis data
Tabel
3: Perbandingan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dalam SAT menggunakan
paired test 't'.
Grup
|
N
|
Mean
|
SD
|
Uji
nilai “t”
|
keterangan
|
|||
SAT
|
Pre-tes
|
Post-tes
|
||||||
Grup
control
|
35
|
32,5
|
34,2
|
7,8
|
4,6
|
1,6
|
NS
|
|
Grup
Cooperative learning
|
35
|
30,9
|
41,7
|
8,1
|
4,3
|
13,7
|
S
|
|
Grup
Instruksi Metakognitif
|
35
|
31,2
|
55.4
|
8,2
|
4,4
|
24,8
|
S
|
|
Keterangan : NS :
Not significant
S
: Significant
Hal
ini disimpulkan dari table 3 bahwa pada kelompok kontrol nilai diamati 't'
adalah t (34) = 1,6 (p> 0,01). Karenanya tidak ada perbaikan yang signifikan dalam pencapaian skor rata-rata dari
pre-test untuk post-test. Dalam koperasi
Kelompok belajar nilai dihitung 't' adalah t (34) = 13,7 (p <0,01).Sesuai dengan hasil, telah terlihat bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam pencapaian skor rata-rata dari pretest ke post test. Dalam Kelompok instruksi metakognitif nilai rata-rata pre-test dan post-test adalah 31,2 dan 55,4 masing-masing. Itu
menunjukkan bahwa pendekatan metakognitif memiliki efek yang lebih positif terhadap prestasi daripada koperasi belajar.Nilai t t (34) = 24,8 (p <0,01) menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam prestasi berarti
skor dari pretest ke post test.
Kelompok belajar nilai dihitung 't' adalah t (34) = 13,7 (p <0,01).Sesuai dengan hasil, telah terlihat bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam pencapaian skor rata-rata dari pretest ke post test. Dalam Kelompok instruksi metakognitif nilai rata-rata pre-test dan post-test adalah 31,2 dan 55,4 masing-masing. Itu
menunjukkan bahwa pendekatan metakognitif memiliki efek yang lebih positif terhadap prestasi daripada koperasi belajar.Nilai t t (34) = 24,8 (p <0,01) menunjukkan bahwa ada peningkatan yang signifikan dalam prestasi berarti
skor dari pretest ke post test.
Tabel
4:Perbandingan kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dalam MAT menggunakan
paired test 't'
Grup
|
N
|
Mean
|
SD
|
Uji
nilai “t”
|
Keterangan
|
|||
Pre-tes
|
Post-tes
|
|||||||
MAT
|
Grup
control
|
35
|
22,9
|
24,3
|
7,1
|
5,4
|
2,2
|
NS
|
Grup
Cooperative learning
|
35
|
24,2
|
27,1
|
6,9
|
4,2
|
2,4
|
NS
|
|
Grup
Instruksi Metakognitif
|
35
|
23,7
|
36,7
|
7,3
|
3,8
|
7,2
|
S
|
|
Diamati
nilai 't' untuk kelompok kontrol adalah t (34) = 2,2 (p> 0,01). Oleh karena
itu tidak ada perbaikan yang signifikan kesadaran metakognitif. Pada kelompok
pembelajaran kooperatif nilai t adalah t (34)= 2,4 (p> 0,01). Hal ini
menunjukkan bahwa tidak ada perbaikan yang
signifikan dalam kesadaran metakognitif. Dalam metakognitif instruksi kelompok
t Nilai adalah t (34) = 7,2 (p <0,01). Ini menunjukkan ada peningkatan yang
signifikan dalam kesadaran metakognitif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen menerima instruksi metakognitif dilaporkan lebih tinggi pengetahuan metakognitif dan prestasi dan mereka juga bisa menjawab pertanyaan tingkat yang lebih tinggi kognitif
dibandingkan dengan kelompok pembelajaran kooperatif dan kelompok kontrol. Temuan ini menguatkan dengan orang Coutinbo (2007) dan Lippmann (2005), di mana mereka menemukan hasil yang positif bagi prestasi siswa dan peningkatan
partisipasi dalam pembelajaran.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok eksperimen menerima instruksi metakognitif dilaporkan lebih tinggi pengetahuan metakognitif dan prestasi dan mereka juga bisa menjawab pertanyaan tingkat yang lebih tinggi kognitif
dibandingkan dengan kelompok pembelajaran kooperatif dan kelompok kontrol. Temuan ini menguatkan dengan orang Coutinbo (2007) dan Lippmann (2005), di mana mereka menemukan hasil yang positif bagi prestasi siswa dan peningkatan
partisipasi dalam pembelajaran.
Analisis
regresi berganda dilakukan untuk mengetahui hubungan antara prestasi dalam ilmu
instruksi metakognitif grup dengan intervensi kesadaran metakognitif variabel.
Tabel
5: Hasil analisis regresi berganda
β
|
T
|
R
|
R Square
|
R
Square yang disesuaikan
|
|
Kesadaran
metakognitif
|
0,4
|
6,79
|
0,80
|
0,64
|
0,631
|
Rekomendasi bagi pembuat kebijakan
Hasil
penelitian ini secara signifikan dapat mempengaruhi bidang pendidikan menengah
tinggi.
·
Dari temuan
penelitian, siswa sekolah tinggi belajar lebih baik dengan penggunaan strategi
metakognitif.Oleh karena itu ada kebutuhan untuk mengubah metode pengajaran dan
strategi yang diterapkan lebih tinggi untuk
tingkat menengah
tingkat menengah
·
Metode konvensional pengajaran sains tidak kompatibel
dengan mencapai pembelajaran konseptual dan tingkat
keterampilan kognitif. Sebuah tujuan utama pendidikan sains harus
mengembangkan instruksional praktek untuk
mengembangkan keterampilan penalaran ilmiah, berpikir kritis dan kapasitas pengambilan keputusan. sejak
·
Buku didominasi oleh pengetahuan deklaratif (fakta, definisi dan deskripsi) sedangkan pengetahuan
prosedural (mengetahui bagaimana, tahu mengapa) dan situasional harus disediakan untuk studi proses yang
mendalam.Buku harus dirancang dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang berarti dan menarik dan menekankan
aplikasi dan pemecahan masalah. Strategi metakognitif harus dimasukkan dalam buku
aplikasi dan pemecahan masalah. Strategi metakognitif harus dimasukkan dalam buku
·
Memasukkan kurikulum
tentang strategi metakognitif
KESIMPULAN
Metakognisi adalah keberhasilan akademik dan kemampuan pemecahan masalah (Theide et al., 2003). Siswa yang dapat secara efektif membedakan antara informasi yang telah mereka pelajari dan informasi yang mereka belum pelajari lebih mungkin untuk meninjau dan mempelajari informasi baru(Everson & Tobias, 1998). Jika siswa percaya bahwa mereka tahu segalanya untuk tes, mereka mungkin akan mengakhiri belajar mereka. Kemauan untuk mengubah dan keinginan untuk inovasi guru-guru berasal dari perlunya 'memotivasi' siswa, yang tampaknya telah kehilangan minat mereka dalam sains. Strategi metakognitif, yang dapat memotivasi siswa dan memberikan mereka kesempatan untuk belajar, memahami dan mengakui informasi yang diterima di kelas dan dalam kehidupan sehari-hari mereka (Kramarski.et.al. (2004).Ini akan membuat siswa menjadi lebih dan lebih mandiri dalam menghadapi situasi baru. Ini memungkinkan siswa untuk mencari pemahaman dengan menjelajahi dan menyelidiki tentang mereka sendiri dengan guru sebagai fasilitator.
Metakognisi adalah keberhasilan akademik dan kemampuan pemecahan masalah (Theide et al., 2003). Siswa yang dapat secara efektif membedakan antara informasi yang telah mereka pelajari dan informasi yang mereka belum pelajari lebih mungkin untuk meninjau dan mempelajari informasi baru(Everson & Tobias, 1998). Jika siswa percaya bahwa mereka tahu segalanya untuk tes, mereka mungkin akan mengakhiri belajar mereka. Kemauan untuk mengubah dan keinginan untuk inovasi guru-guru berasal dari perlunya 'memotivasi' siswa, yang tampaknya telah kehilangan minat mereka dalam sains. Strategi metakognitif, yang dapat memotivasi siswa dan memberikan mereka kesempatan untuk belajar, memahami dan mengakui informasi yang diterima di kelas dan dalam kehidupan sehari-hari mereka (Kramarski.et.al. (2004).Ini akan membuat siswa menjadi lebih dan lebih mandiri dalam menghadapi situasi baru. Ini memungkinkan siswa untuk mencari pemahaman dengan menjelajahi dan menyelidiki tentang mereka sendiri dengan guru sebagai fasilitator.
Dari
penelitian ini kita dapat menyimpulkan bahwa instruksi metakognitif dapat meningkatkan
kesadaran metakognitif dan perkembangan pembelajaran yang positif. Selain itu,
prestasi akademik siswa dapat meningkat jika strategi pengajaran yang direncanakan
dalam cara metakognitif. Siswa harus diajarkan bagaimana mengembangkan dan strategi
pembelajaran. Guru harus meningkatkan kesadaran metakognitif siswa untuk
meningkatkan kemampuan belajar mereka. "Semakin banyak siswa tahu tentang
strategi belajar yang efektif, semakin besar kesadaran metakognitif mereka dan
semakin tinggi prestasi kelas mereka "(Mango 2010).
REFERENSI
Jayapraba,G. (2013). International journal On New Trends In Education and Their Implications January 2013 Volume: 4 Issue :1 Article :15 ISSN 1309-6249 Metacognitif construction and Cooperative Learning-Strategies For Promoting Insightful Learning In Science. Tirunelveli India.
Bilgin, I., & Geban, O.
(2006). Pengaruh pendekatan pembelajaran kooperatif berdasarkan perubahan
konseptual Kondisi pada pemahaman siswa terhadap konsep kesetimbangan kimia.
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Teknologi, 15 (1), 31-46.
Brown,
A.L. (1987). Mengetahui
kapan, di mana, dan bagaimana untuk mengingat. Masalah
dari metakognisi. Kemajuan dalam psikologi
pembelajaran, 1,77-165. Hillsdale, NJ: Erlbaum.
Coutinbo,
S.A. (2007). Hubungan
antara tujuan, metakognisi dan keberhasilan akademis. Mendidik, 7 (1), 39 - 47.
Chang,
C-Y., & Mao, S-L. (1999). Efek
pada prestasi kognitif ketika menggunakan koperasi
metode
pembelajaran di kelas ilmu bumi. Sekolah Sains dan Matematika, 99 (7), 374-379.
Everson,
H. T. & Tobias, S. (1998). Kemampuan untuk memperkirakan pengetahuandan
kinerja di perguruan tinggi: A analisis metakognitif. Ilmu
instruksional, 26:65-79.
Flavell, J.H. (1976). Aspek metakognitif pemecahan masalah. Dalam L.B.Resick (Ed), The Nature intelijen (Pp.231-236) Hillsdale, NJ: Erlbaum.
Hartman,
H.J. (2001). Metakognisi dalam pembelajaran dan pengajaran, teori,penelitian
dan praktek, Hillsdale, NJ: Lawrence Erlbaum Associates, Inc...
Kramarski,
B., Mavrech, Z. R & Arami, M. (2004). Pengaruh instruksi metakognitif pada
pemecahan matematika tugas otentik. Studi Pendidikan Matematika, 49,
225-250.
Lippmann,
R. (2005). Menganalisis
penggunaan siswa metakognisi selama kegiatan laboratorium. Individu Belajar
perbedaan, 14, 131-137.
Magno, C. (2010).
Peran keterampilan metakognitif dalam
mengembangkan pemikiran kritis. Belajar, Memori, dan Kognisi, 36 (1),
255-262.
Md.Yunus, A.Ş
& Wan Ali, Z.W. (2008). Metakognisi dan
motivasi dalam masalah matematika pemecahan. Itu Internasional jurnal
pembelajaran, 15 (3), 121-132.
Schraw,
G., & Dennison, R.S. (1994). Menilai kesadaran
metakognitif. Kontemporer Psikologi, Pendidikan
19, 460-475.
Stevens, R., & Slavin, R. (1995). Koperasi sekolah dasar: Efek pada prestasi, sikap siswa dan
hubungan sosial. Pendidikan Amerika Jurnal
Penelitian, 32 (2), 321-351.
Theide, KW Anderson, MCM & Therriault, D. (2003). Akurasi pemantauan metakognitif mempengaruhi belajar
teks. J. Edu. Psychol. 95, 66-73.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar