Kamis, 20 Februari 2014

Penyakit Halusinasi dan Delusi



Skizofrenia


Istilah "skizofrenia" berasal dari bahasa Inggris yaitu "schizophrenia" yang memiliki arti "pikiran terbagi atau terpecah" di mana hal itu mengacu pada terganggunya keseimbangan pada emosi dan pikiran.
Seperti dilansir Mayo Clinic dan WebMD, Jumat (23/8/2013), skizofrenia juga diartikan sebagai sekelompok gangguan berat pada otak di mana orang akan menafsirkan realitas dengan abnormal, tidak seperti orang pada umumnya. Orang yang mengalami hal ini akan mengalami beberapa hal seperti halusinasi, khayalan, dan gangguan pada pemikiran dan perilaku. Mayoritas dari penderitanya mengalami rasa takut yang luar biasa. Biasanya, penyakit ini mulai muncul pada usia dewasa muda. Skizofrenia bisa dikatakan sebagai sebuah kondisi yang kronis. Sebab, penderitanya tidak dapat dilepaskan dari namanya pengobatan. Mereka harus mendapatkan perawatan seumur hidup mereka.


Skizofrenia dibedakan menjadi lima subtipe, yakni:
1. Paranoid
Orang yang mengalami hal ini akan sering berkhayal dan mengalami halusinasi, biasanya pada pendengaran. Penderitanya sering mendengar suara-suara pada telinganya, padahal suara itu tidak didengarkan oleh orang lain. Namun, fungsi intelektual dari penderitanya biasanya relatif normal. Jika seseorang mengalami paranoid, biasanya penderitanya biasanya lebih sering menunjukkan kemarahan, bersikap acuh tak acuh, dan cemas. Namun, hal ini masih bisa disembuhkan.
2. Katatonik
Orang yang mengalami subtipe dari skizofrenia ini seringkali melakukan kegiatan dan gerakan yang tidak berarti. Mereka juga akan menarik diri dari lingkungan sosial. Mereka lebih senang menyendiri dan tidak melakukan interaksi dengan orang lain.
3. Tidak teratur
Jenis skizofrenia ini ditandai dengan ucapan dan perilaku yang tidak teratur atau sulit dipahami, misalnya tertawa tanpa alasan yang jelas. Mereka juga sering meluapkan emosi yang tidak pantas. Selain itu, orang yang mengalami hal ini akan terlihat sibuk dengan pemikiran atau persepsi mereka sendiri. Sangat kecil kemungkinan untuk menyembuhkan jenis skizofrenia ini.
4. Diferentiatif
Dibandingkan dengan subtipe lainnya, jenis skizofrenia ini adalah jenis yang paling banyak dialami oleh para penderitanya. Gejala yang ditimbulkan merupakan kombinasi dari beberapa subtipe dari skizofrenia.
5. Residual
Orang yang mengalami hal ini biasanya tidak akan menunjukkan gejala-gejala positif dari penyakit skizofrenia, seperti berkhayal, halusinasi, tidak teratur dalam berbicara dan berperilaku. Biasanya, jenis penyakit ini akan terdiagnosa setelah salah satu dari empat subptipe skizofrenia telah terjadi.
Meski sudah dijelaskan mengenai subtipe dari penyaki skizofrenia, namun sangat sulit untuk menentukan jenis skizofrenia mana yang dialami oleh si penderita. Sebab, mayoritas dari penderita akan menunjukkan gejala-gejala yang hampir sama dengan penderita lainnya.
Namun, bila penderita sudah menunjukkan beberapa gejala yang dianggap sudah mewakili penyakit ini, maka pengobatan harus dilakukan dengan cepat. Sebab, bila tidak, hal ini dapat menimbulkan beberapa masalah lain. Seringkali, penderita ingin berbuat sesuatu yang dapat menyakiti dirinya sendiri. Bila hal itu tidak berhasil dilakukan, mereka mungkin akan mencoba untuk bunuh diri.
Gejala
Tanda dan gejala yang dialami oleh penderita skizofrenia seringkali dikaitkan dengan penyakit mental lainnya. Sebab, tanda dan gejala dari penyakit ini memang hampir sama dengan tanda dan gejala dari penyakit mental lainnya. Hal ini yang menyebabkan penyakit skizofrenia sulit untuk didiagnosis.
Tanda dan gejala dari penyakit ini dibagi menjadi tiga kategori:
1. Gejala positif
Fungsi otak dari penderita penyakit skizofrenia akan bekerja lebih aktif atau bisa dikatakan berlebihan. Hal ini menyebabkan otak bekerja dengan tidak normal. Akibatnya, penderita akan mengalami beberapa hal seperti berikut ini:
  • Berkhayal
Ini merupakan hal yang paling umum dialami oleh para penderita skizofrenia. Mereka memiliki keyakinan yang berbeda dengan orang normal. Mereka akan melihat realitas yang berbeda pula. Selain itu, penderita juga sering salah menafsirkan persepsi.
  • Halusinasi
Orang yang mengalami penyakit ini sering berhalusinasi. Mereka seringkali melihat atau mendengar hal-hal yang sebenarnya tidak ada.
  • Gangguan pikiran
Penderita skizofrenia akan kesulitan berbicara dan mengatur pikirannya sehingga hal ini mengganggu kemampuan berkomunikasi.
  • Perilaku tidak teratur
Orang yang mengalami skizofrenia sering berperilaku aneh, seperti anak kecil yang melakukan hal-hal konyol.
Selain keempat hal di atas, para penderitanya juga sering curiga dan mereka seolah-olah berada di bawah pengawasan yang ketat. Hal itu menyebabkan mereka merasa tertekan.
2. Gejala negatif
Gejala ini mengacu pada berkurangnya atau bahkan tidak adanya karakteristik fungsi otak yang normal. Gejala ini mungkin muncul disertai atau tanpa adanya gejala positif. Gejala-gejala yang ditimbulkan antara lain:
  • Sulit mengekspresikan emosi
  • Menarik diri dari lingkungan sosial
  • Kehilangan motivasi
  • Tidak minat melakukan kegiatan sehari-hari
  • Mengabaikan kebersihan pribadi
Gejala-gejala tersebut seringkali dianggap sebagai kemalasan yang biasa dialami oleh tiap orang. Namun, hal itu ternyata keliru.
3. Gejala kognitif
Jenis gejala ini akan menimbulkan masalah pada proses berpikir. Tanda dan gejala yang mungkin timbul, antara lain:
  • Masalah dalam membuat informasi yang masuk akal dan dapat dimengerti
  • Sulit berkonsentrasi
  • Masalah pada memori otak
Selain ketiga gejala di atas, penyakit skizofrenia juga akan menimbulkan masalah pada suasana hati. Para penderitanya akan mengalami depresi, cemas, dan seringkali mencoba untuk bunuh diri. Gejala-gejala dari penyakit ini lambat laun dapat melumpuhkan para penderitanya. Sebab, hal ini sangatlah mengganggu kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan rutin sehari-hari.
Namun, apabila penderitanya masih berusia remaja, gejala yang ditimbulkan sulit untuk dideteksi dan kemudian dianggap sebagai penyakit skizofrenia. Sebab, pada usia tersebut mereka pasti akan mengalami hal-hal ini yang ternyata merupakan gejala dari penyakit skizofrenia:
  • Menarik diri dari keluarga dan teman
  • Penurunan kinerja di sekolah
  • Sulit tidur
  • Cepat emosi
Namun, bila dibandingkan dengan orang dewasa, anak muda kurang cenderung mengalami khayalan dan lebih cenderung mengalami halusinasi visual.
Penyebab
Penyebab pasti dari penyakit skizofrenia belum diketahui. Namun, beberapa peneliti percaya bahwa penyakit ini dapat terjadi akibat unsur kimia pada otak bermasalah, termasuk neurotransmiter dopamin dan glutamat. Hal ini terlah dibuktikan dari sebuah studi neuroimaging yang menunjukkan perbedaan dalam struktur otak dan sistem saraf pusat dari penderita skizofrenia. Selain itu, para peneliti juga percaya bahwa faktor genetika dan lingkungan turut berkontribusi dalam perkembangan penyakit ini. Namun, ada beberapa faktor yang tampaknya dapat meningkatkan risiko penyakit ini timbul dan berkembang, seperti:
  • Kondisi hidup yang penuh stres
  • Sering mengkonsumsi obat psikoaktif selama masa remaja dan dewasa muda
  • Sering terkena paparan virus, racun, atau kekurangan gizi selama masa kehamilan, khususnya pada trimester pertama dan kedua
Pengobatan
Tidak ada cara pasti untuk mencegah penyakit skizofrenia. Namun, pengobatan dini dapat membantu mencegah kekambuhan dan memburuknya gejala yang timbul akibat dari penyakit ini. Bila tidak diobati, penyakit ini dapat menimbulkan masalah pada emosi, perilaku, dan kesehatan yang semakin lama akan semakin memburuk. Oleh karena itu, segeralah untuk memeriksakan diri ke dokter. Bila Anda telah menduga bahwa Anda mengalami skizofrenia, bicaralah ke dokter Anda. Sebab, dokter akan langsung meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan. Beberapa jenis tes dan ujian yang umumnya dilakukan oleh dokter, antara lain:
  • Tes laboratorium
Dokter akan melakukan tes darah, misalnya dengan melakukan penghitungan sel darah secara lengkap (CBC). Hal ini dapat membantu Anda untuk menyingkirkan kondisi lain yang menimbulkan gejala serupa. Selain itu, dokter mungkin akan merekomendasikan kepada Anda untuk melakukan skrining untuk alkohol dan obat-obatan.
  • Tes pencitraan dengan menggunakan magnetic resonance imaging (MRI) dan computed tomography (CT) scan.
  • Evaluasi psikologis
Dokter akan memeriksa status mental Anda dengan cara mengamati penampilan dan sikap Anda. Dokter akan mengajukan pertanyaan seputar pikiran, suasana hati, khayalan, halusinasi, penyalahgunaan zat, dan potensi percobaan bunuh diri.
Bila dokter sudah menetapkan bahwa Anda mengalami penyakit skizofrenia, dokter pasti akan langsung merujuk Anda untuk melakukan pengobatan. Penyakit ini mruapakan suatu kondisi kronis yang mengharuskan penderitanya untuk melakukan pengobatan seumur hidup mereka walaupun gejala yang timbul juga telah mereda. Anda dapat melakukan pengobatan dengan cara menggunakan obat-obatan atu dengan terapi psikososial.
1. Obat-obatan
Pengobatan dasar untuk mengatasi penyakit skizofrenia adalah dengan menggunakan obat-obatan. Obat antipsikotik adalah obat yang paling sering digunakan untuk mengobati penyakit ini. Jenis obat ini dapat mengontrol gejala karena obat ini dapat mempengaruhi neurotransmitter otak dopamin dan serotonin.
Pilihan pengobatan juga disesuaikan dengan keadaan dari penderitanya. Bila si penderita merupakan pribadi yang tidak disiplin dan pelupa, dokter mungkin akan memberikan obat dengan cara disuntikkan, bukan dalam bentuk pil yang sering dilupakan.
Selain itu, apabila si penderita adalah pribadi yang gelisah, dokter akan melakukan pengobatan awal dengan memberikan obat penenang, seperti benzodiazepin dan lorazepam (Ativan), di mana obat tersebut dapat dikombinasikan dengan obat antipsikotik. Berikut jenis-jenis obat yang dapat Anda gunakan untuk menangani penyakit ini:
  • Obat konvesional atau tipikal dan obat antipsikotik
Jenis obat ini memiliki efek samping neurologis yang berpotensi untuk mengembangkan gangguan pada gerakan (tardive dyskinesia). Beberapa macam dari jenis obat ini, antara lain Chlorpromazine, Fluphenazine, Haloperidol (Haldol), dan Perphenazine. Selain itu, Anda juga dapat menggunakan obat antipsikotik yang dapat mengontrol tanda dan gejala dari penyakit skizofrenia dengan dosis serendah mungkin.
  • Obat antipsikotik atipikal
Ini merupakan jenis obat baru yang juga digunakan untuk mengatasi penyakit skizofrenia. Obat ini juga lebih banyak disukai karena memiliki risiko efek samping yang ditimbulkan lebih rendah daripada obat konvensional. Efek samping dari jenis obat ini antara lain menambah berat badan, menimbulkan penyakit diabetes, dan kolestrol darah menjadi tinggi. Ada beberapa macam obat antipsikotik atipikal, misalnya Aripiprazole (Abilify), Clozapine (Clozaril, Fazaclo ODT), Olanzapine (Zyprexa), dan masih banyak lagi.
Dengan melakukan pengobatan dengan obat-obatan seperti di atas, kondisi Anda dapat Anda kelola dengan lebih mudah. Namun, karena banyak obat yang menimbulkan efek samping yang serius, banyak orang enggan untuk melakukan pengobatan dengan menggunakan obat-obatan.
2. Perawatan psikososial
Meskipun obat-obatan adalah landasan dari pengobatan penyakit skizofrenia, perawatan psikososial juga penting untuk dilakukan. Pada perawatan ini, Anda akan melakukan beberapa hal, seperti berikut:
  • Pelatihan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi.
  • Terapi keluarga yang dapat memberikan dukungan dan pendidikan bagi keluarga yang berhubungan dengan penderita penyakit skizofrenia.
  • Rehabilitasi vokasional atau kejuruan dan dukungan pekerjaan guna membantu penderita skizofrenia untuk dapat mempertahankan pekerjaan mereka walaupun dalam kondisi krisis.
  • Terapi individu. Penderita akan diajari untuk mengelola stress dan mengidentifikasi tanda dan gejala sedini mungkin supaya mereka dapat menghindari kekambuhan.
Selain itu, bagi orang-orang yang memiliki risiko pada peningkatan penyakit skizofrenia dianjurkan untuk melakukan langkah-langkah proaktif, seperti menghindari penggunaan narkoba, mengurangi stres, dan tidur dengan cukup.
Dengan begitu, mereka dapat terbantu untuk meminimalkan gejala dan mencegah penyakit ini semakin memburuk. Dengan perawatan yang tepat, kebanyakan orang dengan skizofrenia dapat mengelola kondisi mereka.




Posted: 23/08/2013 19:00

 



Jumat, 07 Februari 2014

Andragogi kebidanan



1.KOMUNIKASI YANG MENDIDIK
A.PENGERTIAN KOMUNIKASI
Atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”),secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna.
Pengertian komunikasi secara terminologis Secara terminologis komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.
B.PENGIRIMAN-PENERIMAAN PESAN
Kita menggunakan istilah pengirim-penerima sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi adalah pengirim (atau pembicara) sekaligus penerima (atau pendengar). mengirimkan pesan ketika berbicara, menulis, atau memberikan isyarat tubuh.Menerima pesan dengan mendengarkan, membaca, dan sebagainya.
Agar pesan dapat diterima dari pengguna satu ke pengguna lain, proses pengiriman pesan memerlukan sebuah media perantara agar pesan yang dikirimkan oleh sumber (source) dapat diterima dengan baik oleh penerima(receiver). Dalam proses pengiriman tersebut, pesan harus dikemas sebaik mungkin untuk mengatasi gangguan yang muncul dalam transmisi pesan, agar tidak mengakibatkan perbedaan makna yang diterima oleh penerima (receiver).
Gangguan adalah suatu hal, getaran, atau gelombang yang mendistorsi pengiriman pesan dalam proses komunikasi. Gangguan menyebabkan perbedaan antara pesan yang diterima oleh penerima (receiver) dengan pesan yang dikirimkan oleh sumber (source).
C.PROSES KOMUNIKASI
Proses komunikasi adalah bagaimana komunikator menyampaikan pesan kepada komunikannya, sehingga dapat menciptakan suatu persamaan makna antara komunikan dengan komunikatornya. Proses komunikasi ini bertujuan untuk menciptakan komunikasi yang efektif (sesuai dengan tujuan komunikasi pada umumnya).
Komponen komunikasi
·         Komunikator
·         Pesan
·         Penerima
·         Umpan balik
D.KOMUNIKASI EFEKTIF
Komunikasi efektif yaitu komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang lain yang bisa terlihat dalam proses komunikasi.Tujuan dari Komunikasi Efektif sebenarnya adalah memberi kan kemudahan dalam memahami pesan yang disampaikan antara pemberi informasi dan penerima informasi sehingga bahasa yang digunakan oleh pemberi informsi lebih jelas dan lengkap, serta dapat dimengerti dan dipahami dengan baik oleh penerima informasi, atau komunikan. tujuan lain dari Komunikasi Efektif adalah agar pengiriman informasi dan umpan balik atau feed back dapat seinbang sehingga tidak terjadi monoton. Selain itu komunikasi efektif dapat melatih penggunaan bahasa nonverbal secara baik.



2. KARATERISTIK ORANG DEWASA SEBAGAI PESERTA DIDIK
Karateristik perkembangan belajar orang dewasa.Ada empat ciri pembelajaran orang dewasa,yaitu:
1.Konsep diri
2.Konsep pengalaman
3.Konsep kesiapan belajar
4.Konsep perspektif waktu atau orientasi belajar
Pada awalnya dewasa di katagorikan menjadi 3,yaitu :
1.      Dewasa awal adalah usia yang produktif dan banyak penyesuaian yang harus dilakukan menyebabkan masa ini juga disebut masa masalah.
2.      Usia madya merupakan masa peralihan dari masa dewasa yang penuh vitalitas ke masa tua dengan berbagai penurunanfungsi fisik dan psikis,seperti di pahami bahwa masa transisi selalu perlu penyesuaian diri.
3.      Dewasa akhir adalah tahap akhir dari perkembangan manusia. Masa ini juga ditandai dengan kemunduran fungsi tubuh.Sedangkan pada dewasa akhir perkembangan emosionalnya cendrung lebih stabil.
Pendapat beberapa orang tentang dewasa:
  1. Bisa membedakan benar dan salah secara obyektif
  2. Tahu perbedaan benar dan baik
  3. Tahu perbedaan jahat/buruk dan salah
  4. Lebih mendahulukan logika dari pada emosi
  5. Memiliki empati yang relatif tinggi, cenderung aktif membantu org lain yg membutuhkan
  6. Memiliki kemampuan toleransi yang cukup tinggi
  7. Memiliki usaha untuk membuat dirinya & org lain maju ke arah yang lebih baik
Karakteristik dewasa dalam aspek intelektual
  1. Ingatan baik
  2. Cepat memecahkan soal
  3. Daya kosentrasi baik
  4. Senang/sering membaca dan selalu sibuk dengan berbagai hal
  5. Memiliki kemampuan dan toleransi yang cukup tinggi
  6. Mandiri
  7. Memiliki usaha untuk membuat dirinya & org lain maju ke arah yang lebih baik
Karakteristik pribadi dewasa dalam aspek sosial
  1. Ingin mengikuti gaya temannya
  2. Memiliki sopan santun dan tata krama
  3. Tidak tergantung pada orang lain
  4. Pribadi yang dewasa menyesuaikan diri terhadap hal yang tidak bisa diubah
  5. Pribadi yang dewasa menerima dan memenuhi tanggung jawabnya
  6. Pribadi yang dewasa kepuasan yang terbesarnya adalah membuat orang lain bahagia

Karakteristik pribadi dewasa dalam aspek emosional
  1. Lebih mendahulukan logika dari pada emosi
  2. Dapat mengontrol emosi dengan baik dan dapat menyelesaikan masalah dengan kepala dingin
  3. Sering melamun memikirkan masa depan
  4. Kemarahan biasa terjadi
  5. Dapat menerima hla buruk dengan tenang dan stabil
Karakteristik psikologis dewasa
}  Menurut Gordon Allport :
  1. Adanya usaha pribadi pada salah satu lapangan yang penting dalam kebudayaan seperti pekerjaan, politik, agama, seni dan ilmu pengetahuan
  2. Kemampuan untuk mengadakan kontak yang hangat dalam hubungan-hubungan yang fungsional dan tidak fungsional
  3. Adanya suatu stabilitas batin yang fundamental dalam dunia perasaan dan dalam hubungannya dengan penerimaan diri sendiri
  4. Pengamatan pikiran dan tingkah laku menunjukkan sifat realitas yang jelas
  5. Dapat melihat diri sendiri seperti adanya melihat segi kehidupan yang menyenangkan
  6. Menemukan suatu bentuk kehidupan yang sesuai dengan gambaran dunia atau filsafat hidup yang dapat merangkum kehidupan menjadi sesuatu


3.HAMBATAN PEMBELAJARAN ORANG DEWASA
a.      Hambatan Fisiologis
verner dan davison mengidentifikasi 6 faktor fisiologis yang dapat merupakan hambatanbagi orang dewasa dalam mengikuti suatu program pendidikan :
1.      Dengan bertambahnya usia, titik dekat penglihatan (titik terdekat yang di lihat dengan jelas), mulai bergerak semakin jauh.
Misalnya  :Usia  20 th  :  10 Cm
Usia 40 th  :  20  Cm
2.      Dengan bertambahnya usia, titik jenih penglihatan (titik terjauh yang dapat dilihat dengan jelas), mulai berkurang semakin pendek.
3.      Dengan bertambahnya usia, jumlah penerangan yang di butuhkan untuk belajar semakin dekat.
Misalnya:Usia 20 th  :   100 watt
Usia 40 th  :   145 watt
Usia 70 th  :   300 wat
4.      Dengan bertambahnya usia, persepsi kontras warna cenderung kearah merah spektum sehingga kurang dapat membedakan warna-warna lembut
5.      Dengan bertambahnya usia, kemampuan mendengar menjadi berkurang.
6.      Dengan bertambahnya usia, kemampuan membedakan bunyi menjadi semakin berkurang.
Orang yang bicara terlalu cepat menjadi semakin sulit ditangkap. Bunyi sampingan dan suara di latar belakang akan semakin semakin terdengar badai menyatu dengan orang yang sedang berbicara. Bunyi konsonan seperti, g, b, c, dan d akan semakin sukar di bedakan.
b.      Hambatan Psikologis
Dalam suatu kegiatan belajar (pendidikan) orang dewasa, sangatlah mungkin timbul berbagai hambatan, atau bahkan mungkin juga kegagalan, yang bersumber dari situasi psikologis yang ada atau berkembang dalam diri orang dewasa yang sedang belajar tsb.
Ø  Kemampuankonsentrasimenurun
Ø  Cepatmerasajenuh
Ø  Motifasibelajarumumnyamenurun
Ø  Takmaudigurui
Ø  Cenderungkonservatif
Ø  Cepatmerasaletih
Ø  Tingkahlakuheterogen
c.       Hambatan Sosiologis
Ø  Kebimbangan peran. Hal ini terutama dialami oleh peserta didik dewasa awal yang belum tuntas pencarian jati dirinya. Mereka ingin mencoba peran ini atau itu dan sebab itu menyibukkan diri dalam upaya itu. Hal demikian dapat mengurangi tingkat konsentrasi.
Ø  Suasana tidak akrab atau tidak bersahabat. Suasana diantara anggota kelompok yang kurang akrab atau kurang bersahabat dapat menganggu kegiatan belajar. Dalam situasi semacam itu perasaan sebagai “orang asing” (terisolasi) bertumbuh, menyebabkan rasa tidak aman dan tidak nyaman. Karena hambatan itu harus diatasi dengan baik dan berhati-hati. Upaya untuk mengakrabkan para peserta didik diperlukan sekali, seperti melalui ice-breaking lewat permainan.
Ø  Beratnya tanggungjawab dan rasa jenuh (stagnasi). Hal ini umumnya dialami oleh mereka pada tingkat usia dewasa paruh baya. Kegiatan belajar mengajar bersama orang dewasa harus sedemikian rupa menyenangkan, dan tidak dipenuhi dengan tugas-tugas yang berat. Apa yang dipelajari harus dirasakan bermanfaat di masa kini.
Ø  Kecewa atas masa lalu. Perasaan kecewa atas perjalanan hidup dimasa lalu dapat terbawa aam kegiatan belajar mengajar yang diikuti orang dewasa. Mereka dapat mengungkapkan sikap pesimis atas apa yang sedang dipelajari. Muncul perasaan bahwa kegiatan yang ditempuhnya tidak membawa manfaat.
d.      Hambatan Spritual.
Ø  Kurangnya pemahaman dan pengetahuan agama tentang anjuran pentingnya menuntut ilmu sehingga terkadang timbul keengganan untuk belajar karena tidak ada dasar yang kuat. 
Ø  Pemahaman keagamaan yang terlalu sempit bagi sebagian orang dewasa sehingga mereka tidak merasa memerlukan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat duniawi.
Suasana pembelajaran orang dewasa
         Suasana kumpulan manusia aktif
         Suasana hormat menghormati
         Suasana Harga Menghargai
         Suasana percaya
         Suasana penemuan diri
         Suasana bebas ancaman
         Suasana keterbukaan
         Suasana membenarkan perbedaan
         Suasana evaluasi bersama dan evaluasi diri

4.SYARAT KEPRIBADIAN PENDIDIK ORANG DEWASA
1.  Pengertian Pendidik
Menurut W.J.S. poerwadaarminta dalam kamus Umum Bahasa Indonesia, pendidik adalah orang yang mendidik. Menurut Sutari Imam Barnadib, pendidik ialah orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut Abudin Nata, kata pendidik itu mengacu kepada seseorang yang memberikan pengetahuan, keterampilan atau pengalaman kepada orang lain.
2. Peran Pendidik
Pendidik sebenarnya adalah perantara atau penghubung aktiv yang menjembatani antara anak didik dengan tujuan pendidikan yang telah dirumuskan. Agar pendidik itu dapat berfungsi sebagai yang baik maka pendidik harus dapat melakukan tugasnya dengan baik pula. Tugas pendidik itu antara lain :
a.   Tugas Educational (pendidikan)
Dalam hal ini pendidik mempunyai tugas memberi bimbingan yang lebih banyak diarahkan pada pembentukan “kepribadian” anak didik, sehingga memiliki kepribadian yang baik.
                     b.   Tugas Instructional (pengajaran)
Dalam hal ini kewajiban pendidik dititk beratkan pada perkembangan kecerdasan dan daya intelektual anak didik, dengan tekanan perkembangan  pada kemampuan kognitif, kemampuan efektif dan kemampuan psikomotor, sehingga anak bisa menjadi manusia yang cerdas dan sekaligus trampil.
  c.    Tugas Managerial (pelaksanaan)
Dalam hal ini pendidikan berkewajiban mengelola kehidupan lembaganya (kelas atau sekolah yang diasuhnya bagi guru).
              d.     Mendorong dinamika dalam pergaulan kearah yang lebih positif.
              e.       Mengorganisir pergaulan dengan baik sehingga menjadi satu situasi dan     tata hubungan antar individu yang memungkinkan komunikasi timbal bailik antara anak didik dan peserta didik.
  f.   Menyurh anak bertanggung jawab dan menyuruh berperan aktif dalam situasi pergaulan.