BAGIAN IV
UNSUR PEMBANGUNAN KALIMAT
A.PENGERTIAN KALIMAT
Kaum tradisional yang dalam tata bahasa Indonesia
dipelopori oleh St.Takdir Alisjahbana, membatasi kalimat dengan rumusan :
1.
Satuan bentuk bahasa terkecil yang
mengungkapkan suatu pikiran yang lengkap
2.
Satuan kumpulan kata terkecil yang
mengandung pengertian yang lengkap
Ungkapan
mengandung pikiran yang lengkap merupakan
cirri khas pendapat kaum tradisional karena landasan utama dari studi
mereka tentang bahasa adalah isi bahasa atau filsafat.
Paham
linguistic modern atau kaum structural sudah tentu tidak menyetujui batasan
kalimat yang dilandasi isi atau pesan bahasa. Menurut mereka, mengkaji bahasa
selayaknya berdasarkan wujud atau bentuk bahasa. Bahasa itu merupakan symbol
ujaran yang kita dengar sehari-hari, merupakan sekelompok lambang bunyi yang
bersistem. Dengan begitu menurut mereka, batasan kalimat adalah sebagai berikut
:
1. Kalimat
ialah satuan gramatika yang dibatasi oleh jeda panjang yang disertai nada akhir
turun atau naik
2. Kalimat
adalah satu bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, dan
intonasinya yang turun atau naik menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah
lengkap
Menurut kamus Besar
Bahasa Indonesia, kalimat dirumuskan sebagai berikut :
1.
Kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu
konsep pikiran dan perasaan. (Batasan yang memberikan penekanan terhadap isi
bahasa)
2.
Satuan bahasa yang secara relative
berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara actual ataupun
potensial terdiri atas klausa. (Batasab yang memberikan penekaanan terhadap
wujud bahasa ujaran)
B.UNSUR PEMBANGUNAN
BENTUK KALIMAT
Setiap kalimat memiliki unsure isi atau unsure batin dan unsure
bentuk atau unsure lahir. Unsur isi adalah maksud yang terkandung dalam
kalimat. Isi tersebut bisa berupa pertanyaan,pertanyaan,perintah, dan bisa juga
berupa seruan. Bentuk kalimat terdiri atas unsure segmental termasuk susunannya
dan unsure suprasegmental. Unsur segmental tersebut bisa berupa kata, frase,
dan atau klausa. Sementara itu, unsure suprasegmental adalah tekanan, jeda, dan
intonasi.
1. Unsur Segmental
Unsure segmental adalah
unsure yang berupa bagian-bagian yang satu dengan yang lain membangun sebuah
system, yaitu system kalimat. Unsur segmental ini dapat dibaca, didengar, dan
yang satu dengan yang lain nya dapat dipisahkan secara konkret, artinya unsure
segmental itu berwujud sebagai bagian atau segmen dari suatu konstruksi.
·
Kata pokok, Frase, dan Klausa
Alat
pembangunan kalimat yang tergolong unsure segmental itu adalah kata pokok
dengan bentuk perluasannya yang berupa frase dan klausa. Perhatikan kalimat
dibawah ini :
1.
Ya, /
benar !
2.
Kami / tahu.
3.
Dia / rajin.
4.
Hidupnya / sederhana
5.
Kemarin
/ dia / sakit.
6.
Anak rajin itu / putra seorang petani.
7.
Kampong mereka / sangat jauh / dari
kota.
8.
Sebelum berangkat kesekolah / anal itu /
selalu membantu / orang tuanya.
9.
Orang tuanya / sangat senang / karena ia
rajin dan pandai.
Kalimat diatas terdiri
dari atas segmen- segmen yang dengan mudah dapat ditunjukkan. Kalimat 1, 2, 3,
4 dan 5 terdiri atas segmen-segmen yang semuanya berbentuk kata, yakni ya, benar, kami, tahu, dia, rajin, hidupnya,
sederhana, kemarin, dia dan sakit. Kalimat
6 dan 7 terdiri atas segmen- segmen yang semuanya berbentuk frasa, yakni anak rajin itu, putra petani, kampong
mereka, sangat jauh dan dari kota.
Kalimat 8 terdiri atas 4 segmen, satu segmen berbentuk klausa, yakni sebelum
berangkat kesekolah, dari tiga segmen berbentuk frasa, yakni anak itu, selalu membantu, orang tuanya. Kalimat 9 terdiri
atas tiga segmen. Dua segmen berbentuk klausa yaitu karena ia rajin.
·
Susunan kata yang sistematis
Pada
umumnya kalimat itu merupakan susunan kata-kata. Kalimat yang tidak merupakan
susunan kata-kata akan tidak jelas maksudnya atau tidak mengandung maksud.
Perhatikan setiap deretan kata dibawah ini :
1.
Petani
padi menanam di sawah.
2.
Padi
menanam di sawah petani.
3.
Di
sawah menanam petani padi.
4.
Menanam
di sawah pada petani.
5.
Petani
menanam di sawah padi.
6.
padi
menanam petani di sawah.
Enam
buah deretan kata diatas tidak tergolong kalimat karena tidak memiliki susunan
kata-kata yang sistematis dank arena itu mengandung maksud. Jika susunan
katanya diubah menjadi susunan kata yang sistematis, enam buahderetan kata-kata
tersebut berubah menjadi kalimat dengan maksud yang jelas, Misalnya, susunan
kata-katanya diubah menjadi seperti berikut :
1.
petani
menanam padi di sawah.
2.
Di
sawah petani menanam padi.
3.
Petani
di sawah menanam padi.
Dengan
begitu, jelaslah kiranya bahwa susunan kata dengan variasi-variasi tertentu
merupakan alat yang sangat penting dalam membangun kalimat :
·
Kata tugas
Kata
tugas adalah semua kata yang memiliki peranan dalam membangun kalimat, namun
tidak memiliki makna leksikal. Dua kategori
kata tugas yang menonjol adalah preposisi atau kata depan dan kata penghubung
atau konjungsi.
Preposisi
dan konjungsi merupakan unsure pembangun kalimat. Perhatikan kalimat dibawah
ini :
1.
Cekatan,
Nani memacu kudanya.
2.
Gilah
tidak pergi kampus.
3.
Adi
lebih pandai kakaknya.
4.
Ayah
kantor bekerja.
5.
Nilai
rapornya paling bagus, Nida mendapat hadiah sekolahnya.
6.
Membaca
rapor Nida, Ayah dan ibu sangat bergembira.
Kalimat-kalimat diatas
memiliki kelemahan tertentu. Antarbagiannya dapat dirasakan tidak terpadu. Hal itu
terjadi karena tidak munculnya preposisi dan/ atau konjungsi. Setelah
dilengkapi dengan kedua jenis kata tugas tersebut, maka berubahlah
kalimat-kalimat itu menjadi kaimat yang layak seperti terbaca dibawah ini :
1.
Dengan
cekatan,
Nani memacu kudanya.
2.
Gilah tidak pergi ke kampus.
3.
Adi ebih pandai daripada kakaknya.
4.
Ayah ke kantor untuk bekerja
5.
Karena
nilai
rapornya paling bagus, Nida mendapat hadiah dari sekolahnya
6.
Karena
membaca
rapor Nida, Ayah dan ibu sangat bergembira
·
Bentuk kata
Bentuk
kata merupakan unsure segmental lain yang memiliki andil dalam membangun
kalimat. Jika sebuah kalimat memiliki bentuk kata yang tidak semestinya maka
kalimat tersebut akan tergolong kalimat yang tidak baik atau tidak teratur,
seperti beberapa contoh dibawah ini :
1.
Kepala satpam setempat sudah koordinasi dengan pihak-pihak yang
terkait.
2.
Para tegak hukum harus bertindak seadil-adilnya.
Kedua contoh diatas
termasuk kalimat yang tidak sepenuhnya teratur karena tidak tepatnya
bentuk-bentuk kata yang dicetak tebal. Kalimat-kalimat tersebut akan memiliki
struktur yang baik apabila bentuk kata koordinasi
dan tegak disetiap kalimat
tersebut diubah menjadi berkoordinasi dan penegak. Dengan demikian, Berdasrkan
contoh kalimat diatas cukup jelas bahwa bentuk kata merupakan salah satu alat
pembangun kalimat.
2.Unsur Suprasegmental
Ada
dua jenis unsure suprasegmental, yakni jeda dan intonasi. Jeda adalah
penghentian sebentar dalam ujaran. Ramlan membagi jeda atas dua yaitu (1) Jeda pendek
(2) Jeda sedang (3) Jeda panjang.
Jeda
pendek adalah penghentian antarkata dalam satuan fungsi kalimat. Jeda sedang
adalah penghentian antar fungsi kalimat, dan jeda panjang adalah penghentian
antar kalimat. Pembatasan tersebut bersifat relative.
Contoh
:
Tamu
/// itu // masuk. / Para /// siswa // sedang /// belajar. /Walaupun /// begitu,
// mereka // tidak /// merasa // terganggu.
Garis
miring tiga buah ( /// ) mengindikasikan jeda pendek, dua buah ( // )
mengindikasikan jeda sedang, dan satu buah ( / ) mengindikasikan jeda panjang.
Sebagai
unsure pembangun kalimat, jeda dapat membedakan isi kalimat. Kalimat- kalimat
dibawah ini, karena perbedaan jeda, bisa mengandung beberapa maksud.
1. Bukan jambu monyet.
·
Bukan,
jambu monyet.
·
Bukan
jambu, monyet !
2.
Itu
bukan kacang babi
·
itu
bukan. Kacang babi.
·
Itu
bukan kacang, babi
3. Bangunan sekolah yang baru itu
sangat kokoh.
·
Bangunan
/// sekolah // yang baru itu // sangat kokoh
·
Bangunan
// sekolah /// yang baru itu // sangat kokoh.
Jeda dan intonasi atau
lagu kalimat merupakan unsure suprasegmental yang kedua. Intonasi dapat
membedakan maksud kalimat. Kalimat pernyataan bia berubah maksudnya kalau
dilengkapi intonasi Tanya. Begitu juga dengan intonasi pertanyaan itu diubah
menjadi intonasi perintah.
Contoh :
1.
Anda
berangkat sekarang.
2.
Anda
berangkat sekarang ?
3.
Anda
berangkat sekarang !
sumber : Ihwal kalimat Bahasa Indonesia dan problematik penggunaannya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar