Jumat, 07 Februari 2014

Unsur pembangunan kalimat



BAGIAN IV
UNSUR PEMBANGUNAN KALIMAT
A.PENGERTIAN KALIMAT
            Kaum tradisional yang dalam tata bahasa Indonesia dipelopori oleh St.Takdir Alisjahbana, membatasi kalimat dengan rumusan :
1.      Satuan bentuk bahasa terkecil yang mengungkapkan suatu pikiran yang lengkap
2.      Satuan kumpulan kata terkecil yang mengandung pengertian yang lengkap
Ungkapan mengandung pikiran yang lengkap merupakan  cirri khas pendapat kaum tradisional karena landasan utama dari studi mereka tentang bahasa adalah isi bahasa atau filsafat.
Paham linguistic modern atau kaum structural sudah tentu tidak menyetujui batasan kalimat yang dilandasi isi atau pesan bahasa. Menurut mereka, mengkaji bahasa selayaknya berdasarkan wujud atau bentuk bahasa. Bahasa itu merupakan symbol ujaran yang kita dengar sehari-hari, merupakan sekelompok lambang bunyi yang bersistem. Dengan begitu menurut mereka, batasan kalimat adalah sebagai berikut :
1.      Kalimat ialah satuan gramatika yang dibatasi oleh jeda panjang yang disertai nada akhir turun atau naik
2.      Kalimat adalah satu bagian ujaran yang didahului dan diikuti oleh kesenyapan, dan intonasinya yang turun atau naik menunjukkan bahwa bagian ujaran itu sudah lengkap
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, kalimat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan. (Batasan yang memberikan penekanan terhadap isi bahasa)
2.      Satuan bahasa yang secara relative berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara actual ataupun potensial terdiri atas klausa. (Batasab yang memberikan penekaanan terhadap wujud bahasa ujaran)

B.UNSUR PEMBANGUNAN BENTUK KALIMAT
            Setiap kalimat memiliki unsure isi atau unsure batin dan unsure bentuk atau unsure lahir. Unsur isi adalah maksud yang terkandung dalam kalimat. Isi tersebut bisa berupa pertanyaan,pertanyaan,perintah, dan bisa juga berupa seruan. Bentuk kalimat terdiri atas unsure segmental termasuk susunannya dan unsure suprasegmental. Unsur segmental tersebut bisa berupa kata, frase, dan atau klausa. Sementara itu, unsure suprasegmental adalah tekanan, jeda, dan intonasi.
1.      Unsur Segmental
Unsure segmental adalah unsure yang berupa bagian-bagian yang satu dengan yang lain membangun sebuah system, yaitu system kalimat. Unsur segmental ini dapat dibaca, didengar, dan yang satu dengan yang lain nya dapat dipisahkan secara konkret, artinya unsure segmental itu berwujud sebagai bagian atau segmen dari suatu konstruksi.
·         Kata pokok, Frase, dan Klausa
Alat pembangunan kalimat yang tergolong unsure segmental itu adalah kata pokok dengan bentuk perluasannya yang berupa frase dan klausa. Perhatikan kalimat dibawah ini :
1.      Ya, /  benar !
2.      Kami / tahu.
3.      Dia / rajin.
4.      Hidupnya / sederhana
5.      Kemarin  / dia / sakit.
6.      Anak rajin itu / putra seorang petani.
7.      Kampong mereka / sangat jauh / dari kota.
8.      Sebelum berangkat kesekolah / anal itu / selalu membantu / orang tuanya.
9.      Orang tuanya / sangat senang / karena ia rajin dan pandai.
Kalimat diatas terdiri dari atas segmen- segmen yang dengan mudah dapat ditunjukkan. Kalimat 1, 2, 3, 4 dan 5 terdiri atas segmen-segmen yang semuanya berbentuk kata, yakni ya, benar, kami, tahu, dia, rajin, hidupnya, sederhana, kemarin, dia dan sakit. Kalimat 6 dan 7 terdiri atas segmen- segmen yang semuanya berbentuk frasa, yakni anak rajin itu, putra petani, kampong mereka, sangat jauh dan dari kota. Kalimat 8 terdiri atas 4 segmen, satu segmen berbentuk klausa, yakni sebelum berangkat kesekolah, dari tiga segmen berbentuk frasa, yakni anak itu, selalu membantu, orang tuanya. Kalimat 9 terdiri atas tiga segmen. Dua segmen berbentuk klausa yaitu ­karena ia rajin.
·         Susunan kata yang sistematis
Pada umumnya kalimat itu merupakan susunan kata-kata. Kalimat yang tidak merupakan susunan kata-kata akan tidak jelas maksudnya atau tidak mengandung maksud. Perhatikan setiap deretan kata dibawah ini :
1.      Petani padi menanam di sawah.
2.      Padi menanam di sawah petani.
3.      Di sawah menanam petani padi.
4.      Menanam di sawah pada petani.
5.      Petani menanam di sawah padi.
6.      padi menanam petani di sawah.
Enam buah deretan kata diatas tidak tergolong kalimat karena tidak memiliki susunan kata-kata yang sistematis dank arena itu mengandung maksud. Jika susunan katanya diubah menjadi susunan kata yang sistematis, enam buahderetan kata-kata tersebut berubah menjadi kalimat dengan maksud yang jelas, Misalnya, susunan kata-katanya diubah menjadi seperti berikut :
1.      petani menanam padi di sawah.
2.      Di sawah petani menanam padi.
3.      Petani di sawah menanam padi.
Dengan begitu, jelaslah kiranya bahwa susunan kata dengan variasi-variasi tertentu merupakan alat yang sangat penting dalam membangun kalimat :
·         Kata tugas
Kata tugas adalah semua kata yang memiliki peranan dalam membangun kalimat, namun tidak memiliki makna leksikal.  Dua kategori kata tugas yang menonjol adalah preposisi atau kata depan dan kata penghubung atau konjungsi.
Preposisi dan konjungsi merupakan unsure pembangun kalimat. Perhatikan kalimat dibawah ini :
1.      Cekatan, Nani memacu kudanya.
2.      Gilah tidak pergi kampus.
3.      Adi lebih pandai kakaknya.
4.      Ayah kantor bekerja.
5.      Nilai rapornya paling bagus, Nida mendapat hadiah sekolahnya.
6.      Membaca rapor Nida, Ayah dan ibu sangat bergembira.
Kalimat-kalimat diatas memiliki kelemahan tertentu. Antarbagiannya dapat dirasakan tidak terpadu. Hal itu terjadi karena tidak munculnya preposisi dan/ atau konjungsi. Setelah dilengkapi dengan kedua jenis kata tugas tersebut, maka berubahlah kalimat-kalimat itu menjadi kaimat yang layak seperti terbaca dibawah ini :
1.      Dengan cekatan, Nani memacu kudanya.
2.      Gilah tidak pergi ke kampus.
3.      Adi ebih pandai  daripada  kakaknya.
4.      Ayah ke kantor untuk bekerja
5.      Karena nilai rapornya paling bagus, Nida mendapat hadiah dari sekolahnya
6.      Karena membaca rapor Nida, Ayah dan ibu sangat bergembira

·         Bentuk kata
Bentuk kata merupakan unsure segmental lain yang memiliki andil dalam membangun kalimat. Jika sebuah kalimat memiliki bentuk kata yang tidak semestinya maka kalimat tersebut akan tergolong kalimat yang tidak baik atau tidak teratur, seperti beberapa contoh dibawah ini :
1.      Kepala satpam setempat sudah koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait.
2.      Para tegak hukum harus bertindak seadil-adilnya.
Kedua contoh diatas termasuk kalimat yang tidak sepenuhnya teratur karena tidak tepatnya bentuk-bentuk kata yang dicetak tebal. Kalimat-kalimat tersebut akan memiliki struktur yang baik apabila bentuk kata koordinasi dan tegak disetiap kalimat tersebut diubah menjadi berkoordinasi dan penegak. Dengan demikian, Berdasrkan contoh kalimat diatas cukup jelas bahwa bentuk kata merupakan salah satu alat pembangun kalimat.


2.Unsur Suprasegmental
Ada dua jenis unsure suprasegmental, yakni jeda dan intonasi. Jeda adalah penghentian sebentar dalam ujaran. Ramlan membagi jeda atas dua yaitu (1) Jeda pendek (2) Jeda sedang (3) Jeda panjang.
Jeda pendek adalah penghentian antarkata dalam satuan fungsi kalimat. Jeda sedang adalah penghentian antar fungsi kalimat, dan jeda panjang adalah penghentian antar kalimat. Pembatasan tersebut bersifat relative.
Contoh :
Tamu /// itu // masuk. / Para /// siswa // sedang /// belajar. /Walaupun /// begitu, // mereka // tidak /// merasa // terganggu.
Garis miring tiga buah ( /// ) mengindikasikan jeda pendek, dua buah ( // ) mengindikasikan jeda sedang, dan satu buah ( / ) mengindikasikan jeda panjang.
Sebagai unsure pembangun kalimat, jeda dapat membedakan isi kalimat. Kalimat- kalimat dibawah ini, karena perbedaan jeda, bisa mengandung beberapa maksud.
1.      Bukan jambu monyet.
·         Bukan, jambu monyet.
·         Bukan jambu, monyet !
2.      Itu bukan kacang babi
·         itu bukan. Kacang babi.
·         Itu bukan kacang, babi
3.      Bangunan sekolah yang baru itu sangat kokoh.
·         Bangunan /// sekolah // yang baru itu // sangat kokoh
·         Bangunan // sekolah /// yang baru itu // sangat kokoh.
Jeda dan intonasi atau lagu kalimat merupakan unsure suprasegmental yang kedua. Intonasi dapat membedakan maksud kalimat. Kalimat pernyataan bia berubah maksudnya kalau dilengkapi intonasi Tanya. Begitu juga dengan intonasi pertanyaan itu diubah menjadi intonasi perintah.
            Contoh :
1.      Anda berangkat sekarang.
2.      Anda berangkat sekarang ?
3.      Anda berangkat sekarang ! 


    sumber : Ihwal kalimat Bahasa Indonesia dan problematik penggunaannya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar